
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, hiduplah seorang anak bernama Raka. Ia tumbuh bersama ibunya yang sederhana, penuh kasih, dan selalu menanamkan nilai kejujuran serta kerja keras. Ayahnya telah lama tiada, sehingga sang ibu menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Setiap pagi, Raka melihat ibunya berangkat ke ladang dengan senyum yang tak pernah pudar, meski tubuhnya lelah. "Nak, jangan pernah menyerah. Hidup ini memang berat, tapi hati yang kuat akan membuat langkahmu ringan," ucap ibunya suatu hari. Kata-kata itu tertanam dalam hati Raka.
Waktu berlalu, Raka berhasil meraih beasiswa ke kota besar. Hari keberangkatan tiba, dan ibunya memeluknya erat. "Pergilah, Nak. Jangan khawatirkan Ibu. Doa Ibu selalu bersamamu." Pelukan itu terasa hangat, seolah menjadi tameng dari segala ketakutan. Raka berangkat dengan mata berkaca-kaca, membawa harapan dan doa.
Beberapa tahun kemudian, Raka kembali ke desa sebagai seorang sarjana. Namun, ia mendapati ibunya telah tiada. Di samping ranjang sederhana, tersisa secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapuh: "Ibu bangga padamu. Jangan berhenti bermimpi, karena doa Ibu akan selalu hidup dalam langkahmu."
Air mata Raka jatuh, tapi hatinya dipenuhi rasa syukur. Ia sadar, pelukan terakhir ibunya bukanlah perpisahan, melainkan kekuatan abadi yang akan selalu menuntunnya.